Minggu, 01 Januari 2012

Sahabat Manusia, Siapakah?

Pada beberapa kali kesempatan kudengar pernyataan bahwa “Pak, maaf sekali, saya cukup terganggu, atap yang Anda buat sangat berisik ketika turun hujan.” ataupun “Pak, saya menolak rumah hasil rancangan Anda, soalnya bahan yang Anda pilih tidak mengantisipasi terhadap gangguan bunyi hujan.”

Meski hati kecilku bertanya “Apa yang salah dengan bunyi hujan? Toh tidak bocor.” namun kujawab “Mungkin saya memang tipe orang yang senang mendengar bunyi hujan, namun masukkan yang bagus untuk saya jadikan pertimbangan baru, Pak.”

Menarik, aku menjadi sangat penasaran, “Suara kendaraan di kejauhan saja terkadang dapat membuatku terjaga. Mengapa bunyi hujan malah membuatku tidurku menjadi sangat pulas?” Kukerahkan seluruh logikaku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu pula. Huh, logikaku menyerah.

Namun, dengan mudahnya hatiku menjawab “Persahabatan manusia dengan alam”. Wah betul sekali, termasuk di dalamnya persahabatan manusia dengan bunyi hujan yang merupakan salah satu gejala alam.

Sejenak aku teringat ayahku sering sekali mengingatkan bahwa “Sehebat-hebatnya karya yang tercipta oleh manusia, sesungguhnya hanya mengadopsi dari segala sesuatu yang sudah ada di alam.” Wah, hari ini aku semakin mengerti esensi dari kalimat tersebut. Sederhananya terlahir bentuk kubah, karena mengikuti prinsip cangkang telur. Terlahir bentuk pondasi tiang pancang karena mengikuti prinsip kerja akar tunggang.

Bagaimana untuk benda-benda lainnya seperti sofa, gitar, pintu, cangkir? Diadopsi dari bentuk apa? Dengan mudah ayahku menjawabnya “Diadopsi dari sesuatu yang ada di alam juga, meski kita belum mengetahuinya.”

Ya ya, hebat sekali alam semesta ini dan segala yang ada di dalamnya. Berarti siapa yang lebih hebat lagi?

Terima kasih.

Dennis Wong, 23 Juli 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar