Sejenak, kepalaku diisi oleh beberapa pemikiran yang terasa baru bagiku (aku mengerti bila terasa kuno bagi beberapa orang lainnya). Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku memikirkannya, sehingga semakin membuatku tidak bisa tidur.
Ternyata sesuatu yang mengisi benakku adalah kata kompromi.

Sesuai judul, hmmmm, kompromi, seberapa diperlukankah?
Benakku mulai berlarian ke sana ke mari. Hal-hal yang mulai kupikirkan adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehari-hari.
Dalam mengemudikan mobil, atau sepeda motor, perlukah berkompromi? Aku menjawab perlu. Meski tidak terucap, namun dengan berkompromi, kita dapat menghindari tumbukan antara kendaraan yang kita kemudikan dengan kendaraan lainnya, apalagi jika kita sedang berada di persimpangan jalan yang tidak memiliki lampu pengatur kelancaran lalu lintas.
Profesi arsitek, menurutku adalah kompromi antara pihak klien dengan sang arsitek, sehingga tercipta desain yang memuaskan (desain yang cocok terhadap eksistensi tapak, iklim, alam, kenyamanan pengguna, dsb).
Profesi dokter, menurutku adalah kompromi antara pihak pasien dengan sang dokter, sehingga dapat tercipta solusi terbaik bagi kesehatan fisik sang pasien.
Profesi psikolog, menurutku adalah kompromi antara pihak pasien dengan sang psikolog, sehingga dapat tercipta solusi terbaik bagi kesehatan psikis sang pasien.
Seniman, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kebebasan berekspresinya, sehingga tercipta karya-karya yang indah.
Menjadi berhasil, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan mind-set positif yang ada di dalam benaknya dan dengan perencanaan yang cermat dan teliti, meski keberhasilan sendiri memiliki arti yang cukup luas, tergantung perspektif masing-masing orang.
Menjadi kurang berhasil namun tetap optimis, menurutku adalah hasil kompromi antara seseorang dengan prinsip konsistensi dan persistensi yang dimilikinya, sehingga dengan tenangnya orang tersebut dapat berkata "Kegagalan, merupakan keberhasilan yang tertunda."
Keadaan kaya harta, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kebebasan finansialnya, sehingga seseorang dapat dengan cermat dan arif dalam mendayagunakan kebebasan finansialnya.
Menjadi pemimpin yang baik, menurutku adalah hasil kompromi antara seseorang dengan komitmen kepemimpinannya (visi dan misi sang pemimpin), sehingga pemikiran yang tercipta berorientasi pada problem-solving.
Kegiatan nge-band, menurutku adalah kompromi antara pihak vocalist, drummer, guitarist, bassist, pianist, dll, sehingga tercipta alunan lagu yang indah.
Kegiatan berdiskusi yang sehat, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan orang lainnya dengan materi yang didiskusikan, sehingga tercipta pemikiran-pemikiran yang kreatif dan inovatif.

Berbisnis, menurutku adalah kompromi antara beberapa pengusaha, sehingga tercipta keadaan win-win-solution.
Berpacaran, menurutku adalah kompromi antara pihak yang satu dengan pihak pasangannya, sehingga hubungannya dapat berjalan harmonis.
Berumah tangga, menurutku adalah kompromi antara suami, istri, dan komitmen pernikahan mereka, sehingga tercipta keluarga yang shakinah.
Cinta yang tak terbalas, menurutku adalah kompromi antara pihak yang mencintai dengan pihak yang dicintai, sehingga yang mencintai dapat menghargai segala keputusan dari pihak yang dicintai.
Menjadi percaya diri, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan dirinya sendiri, sehingga seseorang dapat selalu membuat keputusan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.
Menjadi rendah hati, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kepercayaan dirinya, sehingga seseorang berani untuk mendengarkan pendapat dari seseorang lainnya.
Terima kasih.
Dennis Wong, 28 Juni 2011.