Minggu, 01 Januari 2012

Hari Ini adalah Hadiah




Beberapa orang bijak mengatakan bahwa:

Yesterday is history.
Tomorrow is mistery.
But today is present, a gift.

Masa lalu biarlah berlalu.
Menyesalkah telah memiliki masa lalu?
Tidak, karena berkat masa lalu lah kita belajar mengenai hikmah.

Masa depan kita pasrahkan kepada-Nya.
Takutkan kita kepada masa depan?
Tidak, karena keyakinan kita akan kehendak-Nya di masa depan tak mungkin tergoyahkan.

Saat inilah yang terpenting.
Fokus akan kenikmatan dan rasa syukur terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil yang sedang kita lakukan, saat ini, hari ini, detik ini.

Terimakasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Hubungan Kekasih

Menarik sekali mengenai apa yang salah seorang sahabatku coretkan mengenai “hubungan kekasih”.

Sejenak aku pun jadi membayangkan kenikmatan dari hubungan tersebut.

Hubungan kekasih yang sehat menurutku adalah hubungan di mana: high-level of trust, saling mengenal, saling mendukung, saling memberi, saling menghargai, saling mendengar, saling bersandar; sehingga berdampak juga pada kesehatan: fisik, emosional, mental, dan spiritual dari pasangan tersebut.

Terima kasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Hidup itu Bagaikan Berinvestasi dan Meninggalkan Warisan

Sejenak, aku terpicu untuk berpikir setelah membaca celotehan salah seorang kawan sejawat di perguruan tinggi, yang membahas mengenai tujuan hidup yang merupakan keputusan.

Setuju sekali dengannya. Tujuan hidup itu adalah keputusan, yang mengingatkan kita juga bahwa dalam hidup diberikan berbagai pilihan dengan berbagai konsekuensinya. Sehingga keputusan terbaik akan terjadi ketika kepala kita sepenuhnya dingin dan obyektif alias netral.

Selain itu, ternyata celotehan kawanku tersebut menginspirasikanku bahwa hidup merupakan proses investasi. Kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain, menyebabkan kebahagiaan yang orang lain berikan kepada kita. Penghormatan kita terhadap orang lain, menyebabkan penghormatan orang lain terhadap kita. Penghargaan kita terhadap orang lain, menyebabkan penghargaan orang lain terhadap kita. Senyuman kita untuk orang lain, menyebabkan senyuman orang lain untuk kita. Dan seterusnya kurang lebih seperti itulah yang terjadi. Meski investasi terbaik adalah investasi positif yang didasarkan oleh ketulusan.

Berdasarkan investasi-investasi kecil yang dilakukan kita setiap saat, setiap hari, setiap detik, maka secara tidak langsung kita sedang meninggalkan warisan. Warisan itu bisa saja macam-macam, seperti: idealisme, pola pikir, motivasi, karya nyata secara fisik, dsb.

Jadi, sama sekali tidak ada ruginya untuk dengan tulus (tanpa mengharapkan imbalan) memberikan kebahagiaan kita terhadap lingkungan sekitar kita.

Terimakasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Seberapa Besar Bagasimu?

Seberapa besar bagasimu?

Bagasi yang dimiliki oleh setiap orang adalah berbeda-beda, namun, kita merupakan manusia yang fleksibel layaknya otot, sehingga dengan kesungguhan niat, setiap hari kita dapat memperbesar kapasitas dan mempertebal permukaan bagasi yang kita miliki – Elaine Vashti

Terima kasih.

Dennis Wong, 26 Desember 2011.

Wahai Saudara

Sejenak aku merenung. Bahagia sekali diriku, selalu dikelilingi oleh saudara-saudari.

Saudara-saudari yang gagah, bermental baja, tegas kepada keyakinan/prinsipnya, tegas berintegritas, tegas dalam berbicara, tegas dalam bertindak, meski memiliki hati yang sangat lembut dan luwes, yang selalu mencoba mendengarkan, memosisikan, menerima saudara lainnya dengan tulus.

Terima kasih.

Dennis Wong, 25 Desember 2011.

Bisakah Jadi Pemenang? Bisa Banget

Ternyata, tuna netra sekalipun, di luar segala keterbatasan fisiknya, tetap bertindak jadi tukang pijat, dan benar-benar konsisten memiliki mental sebagai pemenang untuk menekuni profesinya.

Apalagi kita, yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa: penglihatan yang bagus, tangan, pikiran, keberanian bertindak; pasti bisa menghadapi segala tantangan dalam hidup ini dengan kepala dingin dan hati yang damai.

Terima kasih.

Dennis Wong, 22 Desember 2011.

Kita Orang yang Beruntung? Iya Banget

Suatu pagi yang cerah, di tengah ramainya jalan raya di Kota Bandung, ketika saya sedang duduk sambil melamun di dalam angkot, lamunan saya terusik oleh senyuman seorang ibu cantik yang duduk di hadapan saya yang sambil dengan ganjil menggendong anak laki-lakinya yang sudah cukup besar. Secara otomatis aku pun membalas senyumannya. Dari situlah perbincangan kami mulai mengalir.

“Pagi Bu. Lagi jalan-jalan sama anaknya, ya Bu?” tanyaku.

“Pagi Pak. Oh engga, aku mau ke rumah sakit.” jawabnya.

“Oh, mau check-up rutin ya, Bu?”

“Oh, engga, saya mau membawa anak saya terapi. Kebetulan, anak saya ini mengalami kelainan dari lahir, engga bisa berpikir, berbicara maupun beraktivitas. Jadi, sampai dengan usia 9 tahun ini dia rutin mengikuti terapi.”

Kurang lebih seperti itulah pembicaraannya. Namun, saya terpesona sekali kepada sang ibu cantik tersebut. Di samping menghabiskan biaya, waktu dan tenaga yang sama sekali tidak sedikit untuk terapi di rumah sakit, sang ibu tetap saja:

1. Semangat,

2. Tegar,

3. Tetap tulus mengimani kesembuhan sang buah hatinya,

4. Tetap menebarkan senyuman kebahagiaan kepada orang-orang yang ditemuinya.

Ternyata kita adalah orang yang beruntung. Masih banyak orang yang masalahnya yang lebih besar daripada yang kita miliki, dan dapat tetap tersenyum bahagia.

Terkadang saya merindukan momen-momen di saat surat dari kendaraan pribadi saya kadaluwarsa, sehingga saya harus menggunakan jasa angkot dan dapat berinteraksi bersama sesama penumpang seperjalanan.

Dennis Wong, 6 Desember 2011.

Kamu Mau Menjadi Orangtua Macam Apa?

Suatu saat, salah seorang kawan dekat saya yang baru saja menjadi ayah bertanya kepada saya “Kamu mau menjadi orangtua macam apa?” Saya jawab “Maunya sih menjadi orang tua macam ayahku.” Kemudian ia menanyakan lagi “Oh ya, memang ayahmu seperti apa?”

“Dari kecil ayahku selalu memberikan kepercayaan kepadaku. Beliau selalu menganggapku sahabat. Di kala aku lalai, beliau menegurku, namun di kala aku benar, beliau memujiku. Beliau selalu mengingatkan bahwa ambillah hikmah di masa lalu, buang jauh-jauh rasa penyesalan. Beliau selalu memotivasiku, tidak pernah menakut-nakutiku, apalagi membodoh-bodohi aku. Beliau tidak pernah sedikitpun membawa keluh kesah pekerjaannya ke rumah. Beliau tidak pernah mematahkan argumenku, melainkan selalu mendengarkan aku hingga aku selesai bicara, baru menanggapinya. Beliau pula yang mengajarkan aku berdiskusi, sehingga melahirkan penyelesaian. Ketika beliau berbicara, dengan sendirinya aku akan mendengarkannya tanpa paksaan sedikitpun. Bukan hanya perkataannya saja yang kudengar, namun tindakannya pun layak aku tiru. Beliau tetap menyempatkan waktu untuk membawaku ke tempat kerjanya, sehingga aku menjadi tahu apa yang beliau kerjakan dan bagaimana cara beliau bekerja, menghadapi rekan kerja, menyelesaikan masalah. Beliau selalu berkata, ‘Jika aku hebat, anakku harus lebih hebat lagi.’ Beliau tetap mengakui kesalahannya dan meminta maaf ketika lalai, gentle sekali menurutku. Beliau pula yang mengajarkan kepadaku bahwa ‘Tidak perlu mencari pengakuan dari orang lain, yang terpenting adalah pengakuan dari dirimu sendiri, itulah integritas.’ Wibawanya tumbuh dengan sendirinya di benakku, bukan dibuat-buat. Dan masih banyak lagi.”

Dennis Wong, 5 Desember 2011.

Bisakah Mengelola Rasa Stress? Bisa Banget

Wajar sekali jika terkadang kita mengalami perasaan mumet, puyeng, panik, takut, kacau, tidak bisa tidur, jantung berdebar, pada kehidupan keseharian kita.

Mau apapun masalahnya, namun sesuai pengalaman saya, jika kita mengalami hal yang seperti itu, menurut saya cara terbaiknya adalah: meditasi. Meditasi tidak selalu duduk diam dengan pose Shaolin, tetapi belajar mengontrol pikiran, sehingga pikiran kita jernih kembali.

1. Fokus dan enjoy. Salah satu cara yang selalu saya terapkan untuk mengontrol pikiran adalah dengan cara memfokuskan pikiran dan enjoy terhadap apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Misalnya, ketika kita sedang membaca buku, kita akan fokus dan enjoy dengan buku yang kita baca, tidak memikirkan hal lainnya. Sama halnya pada saat istirahat, kita dapat mencoba untuk tidak mengingat hal apapun pada saat sedang istirahat.

2. Berusaha sebisa mungkin membuang jauh-jauh pikiran negatif tentang diri kita di pikiran kita. Biarpun terkadang kita masih lalai, namun tetap bisa dilakukan jika kita tetap berusaha.

3. Terapi irama nafas. Cara lainnya adalah dengan cara terapi irama nafas selama jangka waktu tertentu, misalnya 5 menit atau 10 menit.

4. Mendengarkan lagu. Bisa saja mendengarkan lagu easy listening ataupun lagu yang benar-benar kita senangi.

5. Olah raga, misalnya: lari pagi, push up, sit up, dll. Karena olah raga menghasilkan hormon tertentu yang membuat kita gembira.

6. Menulis. Kertas dan pena seringkali menjadi media yang tepat untuk menyederhanakan segala hal yang ada di dalam pikiran kita, sehingga secara otomatis kita akan menjadi mudah memikirkan pemecahannya.

7. Sharing dengan teman terdekat. Selain menulis, sharing seringkali membantu dalam memulihkan kejernihan pikiran kita.

8. Canda dan tawa. Bersenda gurau dengan teman yang tepat seringkali membantu memulihkan kegembiraan yang ada di dalam diri kita.

9. Berdoa. Berdoa dan menghadirkan Keagungan Sang Maha Pencipta di dalam hati kita akan sangat membantu kita untuk semakin percaya diri. Selain itu pun, kita menjadi semakin mensyukuri apa yang kita miliki. Setidaknya kita masih bisa bernapas, masih bisa melihat, masih memiliki talenta, masih memiliki orang-orang tercinta di sekitar kita, dsb.

Ketika pikiran kita sudah jernih kembali, aktivitas apapun yang kita kerjakan akan terasa semakin efektif. Selain itu, kemampuan kita merumuskan masalah menjadi tajam kembali, sehingga kita dapat mencari pemecahan/solusi yang paling efektif. Dan menurut saya kita pun harus luwes terhadap diri kita sendiri, dengan menyisakan waktu untuk istirahat dan relaksasi baik fisik maupun pikiran, karena kita bukanlah robot.

Di luar semua itu, ada pernyataan yang telah lama melekat di dalam pikiran saya, yaitu:

1. Diri kita yang asli sesungguhnya jauh lebih baik daripada diri kita yang seringkali ada di dalam pikiran kita.

2. Maka dari itu kerjakan saja apa yang sesuai dengan kata hati kita (tentunya sejauh hal tersebut positif) setahap demi setahap. Gajah di pelupuk mata pun akan habis jika kita makan sesuap demi sesuap.

3. Karena kita bukan peramal yang dapat mengetahui masa depan.

Saya percaya, kita semua pasti bisa mengolah rasa stress. Terima kasih.

Dennis Wong, 4 Desember 2011.

Optimis atau Realistis? Dua-duanya

Pada suatu hari, seorang anak menghampiri ayahnya dan bertanya “Yah, masa sih tidak ada yang impossible di dunia ini? Pasti ada dong?”

Sang ayah tertegun memandangi wajah anaknya dan menjawab “Wah, pertanyaan yang bagus, Nak. Ayah setuju, ada sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Yaitu melawan kodrat kita sebagai manusia. Maka dari itu kita mengenal istilah optimis realistis.”

“Melawan kodrat kita sebagai manusia? Hmmm. Bisa berikan contoh, Yah?”

“Salah satu contohnya, manusia tidak dapat terbang dengan tangan, karena secara kodratnya, sang pencipta memberikan kita tangan agar dapat berkarya, bukan untuk terbang. Namun manusia tetap ingin terbang. Seiring berjalannya waktu, dengan tangannya, manusia melahirkan sebuah karya yang hebat, yaitu pesawat terbang. Maka dari itu tetap saja kita optimis Nak, dan realistis.”

“Wah, pemikiran Ayah hebat sekali.”

“Pertanyaanmu juga hebat, Nak.”

“Kenapa Ayah bilang pertanyaanku hebat?”

“Iya, soalnya, jika kamu tidak memberikan pertanyaan itu pada ayah, belum tentu ayah bisa berpikir seperti itu. Maka dari itu, jika kamu sedang bingung, jangan pernah malu untuk nanya sama ayah.”

“Oke, Yah.”

Dennis Wong, 5 Agustus 2011.

Sahabat Manusia, Siapakah?

Pada beberapa kali kesempatan kudengar pernyataan bahwa “Pak, maaf sekali, saya cukup terganggu, atap yang Anda buat sangat berisik ketika turun hujan.” ataupun “Pak, saya menolak rumah hasil rancangan Anda, soalnya bahan yang Anda pilih tidak mengantisipasi terhadap gangguan bunyi hujan.”

Meski hati kecilku bertanya “Apa yang salah dengan bunyi hujan? Toh tidak bocor.” namun kujawab “Mungkin saya memang tipe orang yang senang mendengar bunyi hujan, namun masukkan yang bagus untuk saya jadikan pertimbangan baru, Pak.”

Menarik, aku menjadi sangat penasaran, “Suara kendaraan di kejauhan saja terkadang dapat membuatku terjaga. Mengapa bunyi hujan malah membuatku tidurku menjadi sangat pulas?” Kukerahkan seluruh logikaku untuk menjawab pertanyaan tersebut. Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu pula. Huh, logikaku menyerah.

Namun, dengan mudahnya hatiku menjawab “Persahabatan manusia dengan alam”. Wah betul sekali, termasuk di dalamnya persahabatan manusia dengan bunyi hujan yang merupakan salah satu gejala alam.

Sejenak aku teringat ayahku sering sekali mengingatkan bahwa “Sehebat-hebatnya karya yang tercipta oleh manusia, sesungguhnya hanya mengadopsi dari segala sesuatu yang sudah ada di alam.” Wah, hari ini aku semakin mengerti esensi dari kalimat tersebut. Sederhananya terlahir bentuk kubah, karena mengikuti prinsip cangkang telur. Terlahir bentuk pondasi tiang pancang karena mengikuti prinsip kerja akar tunggang.

Bagaimana untuk benda-benda lainnya seperti sofa, gitar, pintu, cangkir? Diadopsi dari bentuk apa? Dengan mudah ayahku menjawabnya “Diadopsi dari sesuatu yang ada di alam juga, meski kita belum mengetahuinya.”

Ya ya, hebat sekali alam semesta ini dan segala yang ada di dalamnya. Berarti siapa yang lebih hebat lagi?

Terima kasih.

Dennis Wong, 23 Juli 2011.

Memberi atau Menerima?

Beberapa saat yang lalu, aku sempat diingatkan mengenai kata memberi dan menerima oleh beberapa teman dan kerabat dekatku yang mengomentari coretan harianku yang berjudul “Pilihan, Ada atau Tidak Ya?“.

Jadi, memberi atau menerima?

Jika aku diberi pertanyaan ini ketika usiaku masih kecil, kegiatan “menerima”-lah yang akan kupilih. Menurutku akan sangat berarti jika aku dapat menerima cinta, pujian, pengakuan, dukungan, sandaran, senyuman, kebahagiaan. Sehingga kusadari, pada satu titik, semua itu sempat menjadi ketergantungan bagiku.

Saat ini aku benar-benar bersyukur. Karena aku mulai mengenal arti dan kebahagian dari kegiatan “memberi”. Alasannya adalah bukan karena aku sudah jenuh “menerima”. Namun, dengan “memberi” berarti tidak sia-sia aku dilahirkan ke dunia ini oleh ayah dan ibuku yang sangat kucintai. Sederhana.

Terima kasih terdalam ingin kuucapkan kepada ayah dan ibuku yang telah membesarkanku dan memberikanku banyak inspirasi, sehingga aku terpacu untuk terus berpikir dalam setiap tindakanku.

Terima kasih juga untuk teman-teman terdekatku yang sering mengajakku berdiskusi.

Dennis Wong, 3 Juli 2011.

Baik Dengan Bodoh itu Beda-Beda Tipis?

Sudah sangat sering kudengar kalimat “Baik dengan bodoh itu beda-beda tipis.” Kuselipkan kalimat tersebut pada salah satu ruang di dalam benakku. Dan aku terus bertanya pada diriku sendiri. Apa yang menyebabkan kalimat tersebut sering sekali terucap?

Sejenak kukerahkan logikaku untuk merespon hal tersebut. Namun, tetap saja, sulit sekali bagiku untuk menyetujui hal tersebut.

Akan kuilustrasikan dengan seseorang yang kukenal. Ia adalah orang yang selalu memancarkan gelombang positif bagi orang-orang di sekelilingnya. Semakin kulihat dirinya, semakin kuketahui bahwa dari tindakannya itu, dirinya sama sekali tidak mengharapkan imbalan ataupun pujian.

Semakin kumaklumi jika terkadang ia dianggap sebagai orang bodoh. Bagi sebagian orang, tidak mengharapkan imbalan adalah sesuatu yang bodoh. “Apa yang akan kaudapatkan? Hanya membuang-buang waktumu saja” menurut mereka. Namun, aku tetap saja kurang menyetujui paham tersebut.

Di luar semua itu, menurutku ia sendiri meyakini bahwa dirinya sama sekali tidak bodoh, karena hidup adalah kreasi, bukan kompetisi. Semakin menarik. Karena hidup dalam suasana kompetisi adalah hidup yang kurang menyenangkan. Alangkah sangat membahagiakannya jika hidup di dalam kreasi, sehingga hidup akan terasa sangat bermakna.

Jadi, benarkah baik dan bodoh itu beda-beda tipis?

Terima kasih karena telah mengizinkanku berpendapat.

Dennis Wong, 29 Juni 2011.

Seseorang yang Kukenal

Seiring dengan berjalannya waktu, usiaku bertambah, aku semakin diberi kemampuan untuk lebih mengenal orang-orang yang ada di sekitarku.

Berikut ini akan kuceritakan salah satu orang yang kukenal.

Ia adalah orang yang positif. Berkat mindset yang positif tersebut, terpancar bahasa tubuh yang indah dan natural, sehingga kuakui ia tampak rupawan. Jarang sekali kudengar hal negatif terucap darinya. Kulihat ia selalu mencoba untuk menghargai orang lain secara jujur, tanpa dibuat-buat.

Tanpa kusadari, semakin hari, aku semakin mengenalnya. Setiap hari, kulihat gelombang kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Selain kebahagiaan, kulihat dirinya adalah pribadi yang selalu dikelilingi banyak teman, optimis, selalu bertindak tegas, percaya diri namun tetap rendah hati, tidak haus akan pujian dari seseorang lainnya, sangat bertanggung jawab, dijauhi oleh rasa cemas, sehingga jauh di lubuk hatiku kulihat wibawa melekat pada dirinya.

Sejenak aku bertanya dalam hati. Hal apa yang membuatnya menjadi seperti itu? Ternyata jawabannya sederhana. Karena ia dapat mencintai orang lainnya secara tulus.

Dennis Wong, 29 Juni 2011.

Mencintai Wanita, Memang Menyenangkan

Beberapa saat yang lalu aku mendatangi sebuah restoran kecil bersama teman dan kerabat dekatku. Aku kaget sekaligus senang ketika melihat wanita yang kucintai duduk pada salah satu sudut restoran tersebut.

Tiba-tiba saja kusadari, ia duduk bersama dengan seorang lelaki yang menurutku cukup rupawan. Aku hanya dapat menilainya secara fisik, karena aku sama sekali tidak mengenal lelaki tersebut.

Sejenak, hatiku bereaksi hebat. Reaksi tersebut memunculkan emosi kekesalan, ternyata wanita yang kucintai sedang bersama dengan lelaki lain, bukan diriku. Namun, emosi tersebut tidak perlu kukeluarkan. Cukup hati kecilku saja yang boleh mengetahuinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, emosiku mulai hilang entah ke mana. Setelah itu, yang muncul di dalam benakku adalah gelombang kesenangan. Mengapa gelombang kesenangan? Ternyata jawabannya cukup sederhana. Aku merasa sangat senang jika dapat melihat wanita yang kucintai gembira, walaupun bukan diriku sendiri yang membahagiakannya. Betapa bahagianya jika dapat melihat senyum indah terpancar dari wajahnya.

Sebagai seorang lelaki, kurasakan kesenangan dan semangat mendalam dalam mencintai seorang wanita. Bagaikan candu bagiku.

Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menciptakan wanita.

Dennis Wong, 29 Juni 2011.

Kompromi, Seberapa Diperlukankah?

Sejenak, kepalaku diisi oleh beberapa pemikiran yang terasa baru bagiku (aku mengerti bila terasa kuno bagi beberapa orang lainnya). Semakin aku ingin melupakannya, semakin aku memikirkannya, sehingga semakin membuatku tidak bisa tidur.

Ternyata sesuatu yang mengisi benakku adalah kata kompromi.

Sesuai judul, hmmmm, kompromi, seberapa diperlukankah?

Benakku mulai berlarian ke sana ke mari. Hal-hal yang mulai kupikirkan adalah aktivitas-aktivitas yang dilakukan sehari-hari.

Dalam mengemudikan mobil, atau sepeda motor, perlukah berkompromi? Aku menjawab perlu. Meski tidak terucap, namun dengan berkompromi, kita dapat menghindari tumbukan antara kendaraan yang kita kemudikan dengan kendaraan lainnya, apalagi jika kita sedang berada di persimpangan jalan yang tidak memiliki lampu pengatur kelancaran lalu lintas.

Profesi arsitek, menurutku adalah kompromi antara pihak klien dengan sang arsitek, sehingga tercipta desain yang memuaskan (desain yang cocok terhadap eksistensi tapak, iklim, alam, kenyamanan pengguna, dsb).

Profesi dokter, menurutku adalah kompromi antara pihak pasien dengan sang dokter, sehingga dapat tercipta solusi terbaik bagi kesehatan fisik sang pasien.

Profesi psikolog, menurutku adalah kompromi antara pihak pasien dengan sang psikolog, sehingga dapat tercipta solusi terbaik bagi kesehatan psikis sang pasien.

Seniman, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kebebasan berekspresinya, sehingga tercipta karya-karya yang indah.

Menjadi berhasil, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan mind-set positif yang ada di dalam benaknya dan dengan perencanaan yang cermat dan teliti, meski keberhasilan sendiri memiliki arti yang cukup luas, tergantung perspektif masing-masing orang.

Menjadi kurang berhasil namun tetap optimis, menurutku adalah hasil kompromi antara seseorang dengan prinsip konsistensi dan persistensi yang dimilikinya, sehingga dengan tenangnya orang tersebut dapat berkata "Kegagalan, merupakan keberhasilan yang tertunda."

Keadaan kaya harta, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kebebasan finansialnya, sehingga seseorang dapat dengan cermat dan arif dalam mendayagunakan kebebasan finansialnya.

Menjadi pemimpin yang baik, menurutku adalah hasil kompromi antara seseorang dengan komitmen kepemimpinannya (visi dan misi sang pemimpin), sehingga pemikiran yang tercipta berorientasi pada problem-solving.

Kegiatan nge-band, menurutku adalah kompromi antara pihak vocalist, drummer, guitarist, bassist, pianist, dll, sehingga tercipta alunan lagu yang indah.

Kegiatan berdiskusi yang sehat, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan orang lainnya dengan materi yang didiskusikan, sehingga tercipta pemikiran-pemikiran yang kreatif dan inovatif.

Berbisnis, menurutku adalah kompromi antara beberapa pengusaha, sehingga tercipta keadaan win-win-solution.

Berpacaran, menurutku adalah kompromi antara pihak yang satu dengan pihak pasangannya, sehingga hubungannya dapat berjalan harmonis.

Berumah tangga, menurutku adalah kompromi antara suami, istri, dan komitmen pernikahan mereka, sehingga tercipta keluarga yang shakinah.

Cinta yang tak terbalas, menurutku adalah kompromi antara pihak yang mencintai dengan pihak yang dicintai, sehingga yang mencintai dapat menghargai segala keputusan dari pihak yang dicintai.

Menjadi percaya diri, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan dirinya sendiri, sehingga seseorang dapat selalu membuat keputusan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain.

Menjadi rendah hati, menurutku adalah kompromi antara seseorang dengan kepercayaan dirinya, sehingga seseorang berani untuk mendengarkan pendapat dari seseorang lainnya.

Terima kasih.

Dennis Wong, 28 Juni 2011.

Pilihan, Ada atau Tidak ya?

Film Titanic. Merupakan salah satu film yang kusukai. Film ini kutonton untuk pertama kalinya, bersama ayah, ibu dan adikku, pada salah satu layar lebar di kota kelahiranku, kota Bandung, ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.

Selain berisi nuansa drama percintaan antara Jack Dawson dan Rose DeWittBukater, terdapat beberapa pesan moral yang dapat dipetik.

Dalam film tersebut diceritakan, sekocinya hanya dapat menampung kurang lebih sepertiga (sekitar 700 orang) dari seluruh penumpang yang menaiki kapal mewah tersebut (sekitar 2200 orang). Maka dari itu, sang kapten E.J. Smith memrioritaskan wanita dan anak-anak golongan kelas pertama untuk terlebih dahulu menaiki sekoci tersebut. Namun, tetap saja beberapa orang lelaki yang bersikeras untuk dapat ikut menaiki sekoci demi mempertahankan kehidupan.

Sesekali aku bertanya dalam hati. Jika aku menjadi salah satu penumpang kapal tersebut, apa yang akan kulakukan. Apakah aku akan bersikeras untuk menaiki sekoci, seperti yang dilakukan oleh Caledon Hockley? Ataukah hanya duduk manis di bangku kapal yang hendak karam tersebut?

Untuk saat ini, aku hanya berpendapat, jika aku memiliki istri dan anak, aku akan memilih untuk bersikeras menaiki sekoci, karena secara jangka panjang, aku harus tetap berjuang untuk mempertahankan kehidupan keluargaku.

Namun, jika aku adalah seorang bujangan, aku akan berusaha untuk tidak egois, karena jika aku tidak mempertahankan kehidupanku pun, secara jangka panjang tidak ada yang dirugikan, kecuali nyawaku sendiri.

Tidak ada pilihan yang tidak melahirkan konsekuensi. Aku sangat menyetejui pendapat ibuku, yaitu tidak ada pilihan yang benar-benar absolut. Yang dapat kita lakukan hanyalah memilih secara cermat dan arif, pilihan apa yang akan kita pilih. Dan menurutku, yang benar-benar mengetahui konsekuensi dan dapat mengambil keputusan adalah bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.

Terima kasih untuk film Titanic yang telah berhasil memberikanku inspirasi.

Terima kasih pula untuk ayah dan ibuku yang telah memperkenalkan film bagus tersebut padaku.

Dennis Wong, 28 Juni 2011.