Minggu, 01 Januari 2012

Hari Ini adalah Hadiah




Beberapa orang bijak mengatakan bahwa:

Yesterday is history.
Tomorrow is mistery.
But today is present, a gift.

Masa lalu biarlah berlalu.
Menyesalkah telah memiliki masa lalu?
Tidak, karena berkat masa lalu lah kita belajar mengenai hikmah.

Masa depan kita pasrahkan kepada-Nya.
Takutkan kita kepada masa depan?
Tidak, karena keyakinan kita akan kehendak-Nya di masa depan tak mungkin tergoyahkan.

Saat inilah yang terpenting.
Fokus akan kenikmatan dan rasa syukur terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil yang sedang kita lakukan, saat ini, hari ini, detik ini.

Terimakasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Hubungan Kekasih

Menarik sekali mengenai apa yang salah seorang sahabatku coretkan mengenai “hubungan kekasih”.

Sejenak aku pun jadi membayangkan kenikmatan dari hubungan tersebut.

Hubungan kekasih yang sehat menurutku adalah hubungan di mana: high-level of trust, saling mengenal, saling mendukung, saling memberi, saling menghargai, saling mendengar, saling bersandar; sehingga berdampak juga pada kesehatan: fisik, emosional, mental, dan spiritual dari pasangan tersebut.

Terima kasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Hidup itu Bagaikan Berinvestasi dan Meninggalkan Warisan

Sejenak, aku terpicu untuk berpikir setelah membaca celotehan salah seorang kawan sejawat di perguruan tinggi, yang membahas mengenai tujuan hidup yang merupakan keputusan.

Setuju sekali dengannya. Tujuan hidup itu adalah keputusan, yang mengingatkan kita juga bahwa dalam hidup diberikan berbagai pilihan dengan berbagai konsekuensinya. Sehingga keputusan terbaik akan terjadi ketika kepala kita sepenuhnya dingin dan obyektif alias netral.

Selain itu, ternyata celotehan kawanku tersebut menginspirasikanku bahwa hidup merupakan proses investasi. Kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain, menyebabkan kebahagiaan yang orang lain berikan kepada kita. Penghormatan kita terhadap orang lain, menyebabkan penghormatan orang lain terhadap kita. Penghargaan kita terhadap orang lain, menyebabkan penghargaan orang lain terhadap kita. Senyuman kita untuk orang lain, menyebabkan senyuman orang lain untuk kita. Dan seterusnya kurang lebih seperti itulah yang terjadi. Meski investasi terbaik adalah investasi positif yang didasarkan oleh ketulusan.

Berdasarkan investasi-investasi kecil yang dilakukan kita setiap saat, setiap hari, setiap detik, maka secara tidak langsung kita sedang meninggalkan warisan. Warisan itu bisa saja macam-macam, seperti: idealisme, pola pikir, motivasi, karya nyata secara fisik, dsb.

Jadi, sama sekali tidak ada ruginya untuk dengan tulus (tanpa mengharapkan imbalan) memberikan kebahagiaan kita terhadap lingkungan sekitar kita.

Terimakasih.

Dennis Wong, 29 Desember 2011.

Seberapa Besar Bagasimu?

Seberapa besar bagasimu?

Bagasi yang dimiliki oleh setiap orang adalah berbeda-beda, namun, kita merupakan manusia yang fleksibel layaknya otot, sehingga dengan kesungguhan niat, setiap hari kita dapat memperbesar kapasitas dan mempertebal permukaan bagasi yang kita miliki – Elaine Vashti

Terima kasih.

Dennis Wong, 26 Desember 2011.

Wahai Saudara

Sejenak aku merenung. Bahagia sekali diriku, selalu dikelilingi oleh saudara-saudari.

Saudara-saudari yang gagah, bermental baja, tegas kepada keyakinan/prinsipnya, tegas berintegritas, tegas dalam berbicara, tegas dalam bertindak, meski memiliki hati yang sangat lembut dan luwes, yang selalu mencoba mendengarkan, memosisikan, menerima saudara lainnya dengan tulus.

Terima kasih.

Dennis Wong, 25 Desember 2011.

Bisakah Jadi Pemenang? Bisa Banget

Ternyata, tuna netra sekalipun, di luar segala keterbatasan fisiknya, tetap bertindak jadi tukang pijat, dan benar-benar konsisten memiliki mental sebagai pemenang untuk menekuni profesinya.

Apalagi kita, yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa: penglihatan yang bagus, tangan, pikiran, keberanian bertindak; pasti bisa menghadapi segala tantangan dalam hidup ini dengan kepala dingin dan hati yang damai.

Terima kasih.

Dennis Wong, 22 Desember 2011.

Kita Orang yang Beruntung? Iya Banget

Suatu pagi yang cerah, di tengah ramainya jalan raya di Kota Bandung, ketika saya sedang duduk sambil melamun di dalam angkot, lamunan saya terusik oleh senyuman seorang ibu cantik yang duduk di hadapan saya yang sambil dengan ganjil menggendong anak laki-lakinya yang sudah cukup besar. Secara otomatis aku pun membalas senyumannya. Dari situlah perbincangan kami mulai mengalir.

“Pagi Bu. Lagi jalan-jalan sama anaknya, ya Bu?” tanyaku.

“Pagi Pak. Oh engga, aku mau ke rumah sakit.” jawabnya.

“Oh, mau check-up rutin ya, Bu?”

“Oh, engga, saya mau membawa anak saya terapi. Kebetulan, anak saya ini mengalami kelainan dari lahir, engga bisa berpikir, berbicara maupun beraktivitas. Jadi, sampai dengan usia 9 tahun ini dia rutin mengikuti terapi.”

Kurang lebih seperti itulah pembicaraannya. Namun, saya terpesona sekali kepada sang ibu cantik tersebut. Di samping menghabiskan biaya, waktu dan tenaga yang sama sekali tidak sedikit untuk terapi di rumah sakit, sang ibu tetap saja:

1. Semangat,

2. Tegar,

3. Tetap tulus mengimani kesembuhan sang buah hatinya,

4. Tetap menebarkan senyuman kebahagiaan kepada orang-orang yang ditemuinya.

Ternyata kita adalah orang yang beruntung. Masih banyak orang yang masalahnya yang lebih besar daripada yang kita miliki, dan dapat tetap tersenyum bahagia.

Terkadang saya merindukan momen-momen di saat surat dari kendaraan pribadi saya kadaluwarsa, sehingga saya harus menggunakan jasa angkot dan dapat berinteraksi bersama sesama penumpang seperjalanan.

Dennis Wong, 6 Desember 2011.