Film Titanic. Merupakan salah satu film yang kusukai. Film ini kutonton untuk pertama kalinya, bersama ayah, ibu dan adikku, pada salah satu layar lebar di kota kelahiranku, kota Bandung, ketika aku masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar.
Selain berisi nuansa drama percintaan antara Jack Dawson dan Rose DeWittBukater, terdapat beberapa pesan moral yang dapat dipetik.
Dalam film tersebut diceritakan, sekocinya hanya dapat menampung kurang lebih sepertiga (sekitar 700 orang) dari seluruh penumpang yang menaiki kapal mewah tersebut (sekitar 2200 orang). Maka dari itu, sang kapten E.J. Smith memrioritaskan wanita dan anak-anak golongan kelas pertama untuk terlebih dahulu menaiki sekoci tersebut. Namun, tetap saja beberapa orang lelaki yang bersikeras untuk dapat ikut menaiki sekoci demi mempertahankan kehidupan.
Sesekali aku bertanya dalam hati. Jika aku menjadi salah satu penumpang kapal tersebut, apa yang akan kulakukan. Apakah aku akan bersikeras untuk menaiki sekoci, seperti yang dilakukan oleh Caledon Hockley? Ataukah hanya duduk manis di bangku kapal yang hendak karam tersebut?
Untuk saat ini, aku hanya berpendapat, jika aku memiliki istri dan anak, aku akan memilih untuk bersikeras menaiki sekoci, karena secara jangka panjang, aku harus tetap berjuang untuk mempertahankan kehidupan keluargaku.
Namun, jika aku adalah seorang bujangan, aku akan berusaha untuk tidak egois, karena jika aku tidak mempertahankan kehidupanku pun, secara jangka panjang tidak ada yang dirugikan, kecuali nyawaku sendiri.
Tidak ada pilihan yang tidak melahirkan konsekuensi. Aku sangat menyetejui pendapat ibuku, yaitu tidak ada pilihan yang benar-benar absolut. Yang dapat kita lakukan hanyalah memilih secara cermat dan arif, pilihan apa yang akan kita pilih. Dan menurutku, yang benar-benar mengetahui konsekuensi dan dapat mengambil keputusan adalah bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.
Terima kasih untuk film Titanic yang telah berhasil memberikanku inspirasi.
Terima kasih pula untuk ayah dan ibuku yang telah memperkenalkan film bagus tersebut padaku.
Dennis Wong, 28 Juni 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar