Suatu pagi yang cerah, di tengah ramainya jalan raya di Kota Bandung, ketika saya sedang duduk sambil melamun di dalam angkot, lamunan saya terusik oleh senyuman seorang ibu cantik yang duduk di hadapan saya yang sambil dengan ganjil menggendong anak laki-lakinya yang sudah cukup besar. Secara otomatis aku pun membalas senyumannya. Dari situlah perbincangan kami mulai mengalir.
“Pagi Bu. Lagi jalan-jalan sama anaknya, ya Bu?” tanyaku.
“Pagi Pak. Oh engga, aku mau ke rumah sakit.” jawabnya.
“Oh, mau check-up rutin ya, Bu?”
“Oh, engga, saya mau membawa anak saya terapi. Kebetulan, anak saya ini mengalami kelainan dari lahir, engga bisa berpikir, berbicara maupun beraktivitas. Jadi, sampai dengan usia 9 tahun ini dia rutin mengikuti terapi.”
Kurang lebih seperti itulah pembicaraannya. Namun, saya terpesona sekali kepada sang ibu cantik tersebut. Di samping menghabiskan biaya, waktu dan tenaga yang sama sekali tidak sedikit untuk terapi di rumah sakit, sang ibu tetap saja:
1. Semangat,
2. Tegar,
3. Tetap tulus mengimani kesembuhan sang buah hatinya,
4. Tetap menebarkan senyuman kebahagiaan kepada orang-orang yang ditemuinya.
Ternyata kita adalah orang yang beruntung. Masih banyak orang yang masalahnya yang lebih besar daripada yang kita miliki, dan dapat tetap tersenyum bahagia.
Terkadang saya merindukan momen-momen di saat surat dari kendaraan pribadi saya kadaluwarsa, sehingga saya harus menggunakan jasa angkot dan dapat berinteraksi bersama sesama penumpang seperjalanan.
Dennis Wong, 6 Desember 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar